Kamis, 06 Januari 2011

Waterbirth : Melahirkan / Persalinan Dalam Air


Proses melahirkan / persalinan di dalam air dikenal dengan istilah Waterbirth. Konon melahirkan bayi di dalam air ini merupakan metode terbaru yang memiliki banyak kelebihan dan keuntungan untuk membantu persalinan. Keuntungan waterbirth antara lain :
Bagi Ibu :
  • Mengurangi rasa sakit
  • Memberikan kenyamanan dan lebih rileks
  • Lebih bebas bergerak
  • Mengurangi robekan pada jalan lahir
Bagi Bayi :
  • Mengurangi resiko trauma dan cedera pada kepala bayi
  • Kulit bayi lebih bersih
  • Mengurangi resiko bayi keracunan air ketuban
Untuk referensi lebih banyak tentang melakukan persalinan atau melahirkan dalam air yang disebut dengan waterbirth, silahkan lihat disini, disini dan disini.
Putri pertama saya yang lahir tanggal 22 Februari 2010 juga melalui proses waterbirth. Saya dan istri memutuskan untuk memilih melahirkan dalam air dengan petunjuk dokter spesialis kandungan yang menangani istri saya semenjak awal kehamilan. Dokter tersebut adalah Dr. Dewa Ketut Arika Seputra, Sp.O.G. yang memiliki Tempat Bersalin Anugerah di jalan Gunung Sanghyang, Denpasar-Bali.
Dokter sebenarnya memprediksi kelahiran anak saya sekitar akhir Februari atau awal Maret 2010. Tetapi anak saya akhirnya lahir tanggal 22 Februari 2010, maju sekitar 2 minggu dari prediksi dokter, mungkin karena jenis kelamin anak saya perempuan.
Hari minggu dini hari tanggal 21-2-2010 sekitar jam 4.00 istri saya mengeluh sakit perut, saya awalnya mengira itu sakit perut biasa. Satu jam kemudian karena sakitnya belum hilang juga, saya akhirnya memutuskan untuk periksa ke tempat bersalin yang sudah saya rencanakan sejak awal yaitu Tempat Bersalin Anugerah.
Bidan yang bertugas kemudian memeriksa dan menyatakan bahwa kondisi istri saya saat itu sudah bukaan 1. Karena rumah saya tidak jauh yaitu sekitar 3 km, maka istri saya dipersilahkan pulang dulu dan istirahat di rumah menunggu bukaan selanjutnya.
Jam 4 sore istri saya masih sakit perut, sakitnya semakin sering terasa. Saya kembali mengajaknya periksa, kali ini saya sudah menyiapkan semua perlengkapan untuk bersalin. Tiba disana ternyata masih bukaan 1, tetapi kali ini saya disarankan masuk kamar perawatan.
Sore hingga malam beberapa anggota keluarga datang menjenguk namun tidak menginap. Ketika semua sudah pulang, hanya saya dan mertua perempuan saya yang menunggui istri saya disana.
Sakit yang dirasakan istri saya makin sering, dia sudah semakin gelisah. Jam 10 malam saya mengajaknya turun, kebetulan kamar kami ada di lantai 2. Setelah diperiksa ternyata masih bukaan 1. Kami masih cukup tenang.
Jam 3 dini hari, saya kembali mengajaknya turun periksa dan masih bukaan 1. Kami cukup khawatir karena menurut bidan kalau tidak ada kemajuan, kemungkinan harus di operasi. Rasa khawatir, cemas, ngantuk, kasihan bercampur menjadi satu.
Karena proses pengecekan sebenarnya maksimal dilakukan maksimal 4 jam sekali, maka seharusnya pengecekan dilakukan jam 7 pagi. Tetapi bidan akhirnya bersedia mengecek lagi sekitar jam 5 dan syukurlah ternyata sudah bukaan 2. Saya cukup lega namun belum tenang. Rasanya benar-benar kasihan melihat istri yang sangat tersiksa.
30 menit kemudian bidan kembali mengecek dan ternyata sudah bukaan 5. Kami sangat senang dan bersemangat karena setelah bukaan 5 barulah istri saya diijinkan untuk masuk ke bath tub tempat melahirkan dengan water birth. Hal ini agar istri saya tidak berada di dalam air terlalu lama.
Istri saya kemudian diajak ke ruangan tempat persalinan waterbirth yang berada di ruangan yang lain, dibantu dengan kursi roda. Cuaca di luar sudah mulai terang. Sekitar jam 6 pagi, Senin, 22 Februari 2010, istri masuk ke bath tub tempat bersalin.
Tempatnya di rancang sedemikian rupa sehingga terasa nyaman. Bath tub berisi air steril dan suhunya disesuaikan dengan suhu air di dalam kandungan, juga ditambah dengan bunga sehingga terasa sangat rileks. Ditambah lagi dengan iringan musik slow yang membuat suasana sangat tenang.
Istri saya pun mengaku jauh lebih rilek dibanding sebelumnya. Walaupun masih terasa sakit tapi sudah jauh berkurang. Anggota keluarga yang lain pun berdatangan, bahkan sebenarnya semua diijinkan masuk ke tempat waterbirth. Tetapi istri saya meminta agar tidak semuanya masuk, mungkin dia merasa kurang nyaman jika terlalu ramai.
Ketika ada kotoran di dalam air, bidan segera membersihkan dan menambahkan air yang baru. Bidan lalu mengecek lagi dan sudah bukaan 7. Istri saya sudah merasa bayi mau lahir, bidan selalu mengingatkan untuk menarik nafas panjang-panjang dan jangan sampai ngeden.
Jam 7 lewat ternyata sudah bukaan 8, dan bayi sudah semakin ingin keluar. Bidan tetap mengingatkan agar jangan ngeden dulu agar nanti sekali ngeden semua berjalan lancar. Bidan lalu menghubungi dokter.
Dokter datang beberapa menit kemudian, dokter sangat tenang bahkan sempat menawarkan saya untuk merekam dengan handycam yang dibawanya. Karena tidak sabar dan tidak tenang, saya menolak dan mengatakan tidak perlu direkam.
Dokter lalu meminta saya melepas istri saya dan membiarkannya bebas bergerak sembari dokter memakai perlengkapan sarung tangan dan lainnya. Lalu dokter mempersilahkan istri saya ngeden dan dokter sudah bersiap di depannya di pinggir bath tub.
Istri saya lalu ngeden, cuma sekali saja dan bahkan tidak terlalu keras ngeden, rambut kepala bayi mulai terlihat dan lahir dengan lancar di dalam air. Dalam waktu yang cepat dokter lalu langsung mengambilnya dan meletakkan bayi di dekapan istri saya.
Kami pun sempat berfoto dan mengelus-elus bayi saya yang baru lahir. Saat itu tali pusar bayi masih belum dipotong. Sekitar satu menit dokter mengambil bayi tersebut dan memotong tali pusarnya. Bayi yang lahir sudah sangat bersih dan kemudian ditangani oleh bidan.
Istri saya kemudian keluar dari bath tub dan naik ke tempat tidur yang berada di sebelah bath tub. Dokter lalu mengeluarkan ari-ari dan melakukan sedikit jaritan. Semua berjalan lancar dan setelah melahirkan istri saya sudah bisa berjalan.
Itulah pengalaman kami melakukan persalinan / melahirkan dalam air yang disebut waterbirth. Saya sangat puas dan kami sekeluarga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Dewa Ketut Arika Seputra, Sp.O.G. dan semua bidan di Tempat Bersalin Anugerah.


Faktor Penyebab Kelahiran Sungsang

 
 
Jika kondisi ini terjadi pada kehamilan Anda, maka jangan buru-buru panik.  Asalkan usia kandungan masih di bawah 32 minggu maka si kecil dalam perut masih bisa dikembalikan pada posisi normal kok.
Posisi sungsang, posisi janin memanjang dengan kepala di bagian atas rahim dan bokongnya ada di bagian bawah, tergolong sebagai kelainan letak janin. Kondisi ini biasanya sudah terdekteksi saat kehamilan memasuki trimester kedua. Biasanya Anda akan merasakan kandungan terasa penuh di bagian atas dengan gerakan janin terasa lebih banyak di bagian bawah.
 
Mengapa bisa sungsang?
 
  1. Bobot janin relatif  rendah. Hal ini mengakibatkan janin bebas bergerak. Ketika menginjak usia 28-34 minggu kehamilan, berat janin makin membesar, sehingga tidak bebas lagi bergerak. Pada usia tersebut, umumnya janin sudah menetap pada satu posisi. Kalau posisinya salah, maka disebut sungsang.
  2. Rahim yang sangat elastis. Hal ini biasanya terjadi karena ibu telah melahirkan beberapa anak sebelumnya, sehingga rahim sangat elastis dan membuat janin berpeluang besar untuk berputar hingga minggu ke-37 dan seterusnya.
  3. Hamil kembar. Adanya lebih dari satu janin dalam rahim menyebabkan terjadinya perebutan tempat. Setiap janin berusaha mencari tempat yang nyaman, sehingga ada kemungkinan bagian tubuh yang lebih besar (yakni bokong janin) berada di bagian bawah rahim.
  4. Hidramnion (kembar air). Volume air ketuban yang melebihi normal menyebabkan janin lebih leluasa bergerak walau sudah memasuki trimester ketiga.
  5. Hidrosefalus. Besarnya ukuran kepala akibat kelebihan cairan (hidrosefalus) membuat janin mencari tempat yang lebih luas, yakni di bagian atas rahim.
  6. Plasenta previa. Plasenta yang menutupi jalan lahir dapat mengurangi luas ruangan dalam rahim. Akibatnya, janin berusaha mencari tempat yang lebih luas yakni di bagian atas rahim.
  7. Panggul sempit. Sempitnya ruang panggul mendorong janin mengubah posisinya menjadi sungsang.
  8. Kelainan bawaan. Jika bagian bawah rahim lebih besar daripada bagian atasnya, maka janin cenderung mengubah posisinya menjadi sungsang.
 
 
Bagaimana cara mendeteksi sungsang?
 
  1. Melakukan perabaan perut bagian luar. Cara ini dilakukan oleh dokter atau bidan. Janin akan diduga sungsang bila bagian yang paling keras dan besar berada di kutub atas perut. Perlu diketahui bahwa kepala merupakan bagian terbesar dan terkeras dari janin.
  2. Melalui pemeriksaan bagian dalam menggunakan jari. Cara ini pun hanya bisa dilakukan oleh dokter atau bidan. Bila di bagian panggul ibu lunak dan bagian atas keras, berarti bayinya sungsang.
  3. Cara lain adalah dengan ultrasonografi (USG).
 
 
Tindakan apa yang harus dilakukan?
Selain upaya yang dilakukan dokter, maka Andapun bisa mengupayakan sendiri agar janin kembali ke posisi semula.
  1. Anda dianjurkan untuk melakukan posisi bersujud (knee chest position), dengan posisi perut seakan-akan menggantung ke bawah. Cara ini harus rutin dilakukan setiap hari sebanyak 2 kali, misalnya pagi dan sore. Masing-masing selama 10 menit. Bila posisi ini dilakukan dengan baik dan teratur, kemungkinan besar bayi yang sungsang dapat kembali ke posisi normal. Kemungkinan janin akan kembali ke posisi normal, berkisar sekitar 92 persen. Dan posisi bersujud ini tidak berbahaya karena secara alamiah memberi ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke posisi normal.
 
 
  1. Usaha lain yang dapat dilakukan oleh dokter adalah mengubah letak janin sungsang menjadi normal dengan cara externalcephalic versin/ECV. Metode ini adalah mengubah posisi janin dari luar tubuh sang ibu.  Cara ini dilakukan saat kandungan mulai memasuki usia 34 minggu. Sayangnya, cara ini menimbulkan rasa sakit bahkan kematian janin, akibat kekurangan suplai oksigen ke otaknya.
 
Apa yang terjadi saat persalinan?
Posisi janin sungsang tentunya dapat memengaruhi proses persalinan. Proses persalinan yang salah, jelas menimbulkan risiko, seperti janin mengalami pundak patah atau saraf di bagian pundak tertarik (akibat salah posisi saat menarik bagian tangannya ke luar), perdarahan otak (akibat kepalanya terjepit dalam waktu yang lama), patah paha (akibat salah saat menarik paha ke luar), dan lain-lain. Untuk itu biasanya dokter menggunakan partograf, alat untuk memantau kemajuan persalinan. Jika persalinan dinilai berjalan lambat, maka harus segera dilakukan operasi bedah sesar.
 

2 komentar:

  1. kebanyakan orang desa2 itu kan kalo bayinya sungsang, pada minta tolong ke dukun pijat tuch... nah bagus g yach buat kondisi bayinya???

    BalasHapus
  2. yah...... seharusnya kalo bayi sungsang itu harus ditangani oleh bidan,namun jika bayi itu beresiko maka harus dirujuk ke rumah sakit dengan alat yang lebih lengkap.

    BalasHapus